Uncategorized
Beranda / Uncategorized / LEM FIB UGM Siap Mengawal Aksi Ruwatan FIB Merah Demi Menjaga Kondusivitas Kamtibmas di Wilayah Sleman 

LEM FIB UGM Siap Mengawal Aksi Ruwatan FIB Merah Demi Menjaga Kondusivitas Kamtibmas di Wilayah Sleman 

Screenshot

Sebagai negara demokrasi, Indonesia sering dijuluki sebagai “Laboratorium Demokrasi Dunia”. Sebagai negara kepulauan dengan ribuan etnis dan bahasa, perjalanan Indonesia dalam berdemokrasi bukanlah sekadar pilihan sistem politik, melainkan sebuah ikhtiar panjang untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman. Menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia tentu tidak luput dari tantangan. Isu-isu seperti politik uang, polarisasi di media sosial, hingga menjaga kebebasan berpendapat tetap menjadi pekerjaan rumah yang besar.

Demokrasi kita memang masih “berisik” dan penuh perdebatan, namun justru kebisingan itulah bukti bahwa jantung kebebasan masih berdenyut. Seperti kata Bung Hatta, “Demokrasi bisa tertindas sementara karena kesalahannya sendiri, tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan penuh keinsafan.” Demokrasi di Indonesia bukanlah sebuah produk jadi yang diimpor dari Barat, melainkan sebuah organisme hidup yang terus tumbuh, beradaptasi, dan terkadang mengalami luka dalam proses pendewasaannya. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnis, Indonesia adalah eksperimen demokrasi paling ambisius di dunia.

Demokrasi bukan hanya tentang kebebasan berbicara di mimbar, tetapi juga tentang pemenuhan hak-hak dasar warga negara agar mereka mampu berpartisipasi secara bermartabat dalam kehidupan bernegara. 

Disisi lain mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM menurut rencnana akan menggelar aksi teatrikal bertajuk “FIB Merah” di pertigaan Jalan Sosio Humaniora pada Kamis (11/6). Dalam aksi tersebut, massa akan menampilkan monolog dukun, penyembelihan ayam cemani di atas poster Prabowo-Gibran, pemecahan telur sebagai simbol harapan, serta doa bersama di sekitar sesajen dan lilin. Aksi pertunjukan bertema gaib tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat. Aksi ini menjadi aksi simbolik kedua di lingkungan UGM setelah massa menggelar pembakaran boneka Prabowo-Gibran

Salah satu poin utama yang disoroti dalam aksi ini adalah mendesak pemerintah segera mengevaluasi kebijakan dari pemerintahan Prabowo Gibran. Sebab, beberapa kebijakan tersebut memicu efek domino yang mengabaikan sektor-sektor krusial lainnya. Untuk bidang pendidikan misalnya, banyak guru honorer yang telah mengabdi puluhan tahun dengan gaji rendah. Kemudian program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) sering dikritik karena membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintahan dinilai perlu kehati-hatian ekstra agar kebijakan populis tidak memicu masalah fiskal dan memperlebar defisit.

Ponpes Hidayatullah Sleman Perkuat Pendidikan Karakter dan Literasi Digital Santri

Dalam momen ini, Muhammad Jafar mahasiswa FIB UGM selaku Menteri Koordinator Pergerakan tersebut siap untuk berjuang dengan tetap menjaga kondusifitas di Kabupaten Sleman. Mereka menyatakan siap menjadi pemantik generasi muda terutama seluruh elemen Mahasiswa di DIY untuk turut serta serta bersama sama elemen masyarakat, Polri dan TNI dalam menjaga kabupaten Sleman supaya tetap kondusif.

× Advertisement
× Advertisement